1 Oktober. Momentum
Sudah tanggal satu lagi, dan sebentar lagi tahun akan berakhir. Namun aku, tidak banyak perubahan selain postur tubuh dan wajah yang kian dewasa. Soal langkah, aku seolah jalan di tempat, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Belakangan aku menyadari, bahwa hidupku hanya tentang menyelesaikan satu tugas ke tugas lainnya. Utamanya bicara soal kuliah dan praktik weekend. Hari Minggu jadi hari melegakan setelah semua tugas selesai, hari Senin kembali membuat target untuk seminggu. Tugas presentasi, paper, renungan harian, kelompok di kampus dan di tempat praktek. Hanya itu-itu saja.
Aku mulai bertanya, kapan siklus ini selesai? Akankah aku begini terus?
Mengapa rasanya aku jadi didefinisikan oleh apa-apa saja yang sudah kulakukan? Menjadi human doing daripada human being.
D sisi lain, aku menyadari kelemahan, keterbatasan diri, dan segala sifat-sifar buruk, berhala yang ada dalam diri.
Sulit sekali mengatasinya, sulit mengalahkannya, dan sebab itu aku jadi sulit menjalani hari, bahkan merasa kurang maksimal dalam praktik ini. Oh Tuhan, ampuni hamba.
Aku juga jadi meningat masa lalu. Waktu masih SMK dan aku idealis sekali. Umur sekian ingin meraih ini, umur sekian akan meraih itu, lupa memaksimalkan diri dan asyik membuat target tanpa strategi.
Karena ini aku sering membandingkan diri dengan orang lain, terutama yang punya sekian pencapaian di usia yang lebih muda dariku. Hei, aku iri sekali pada kalian.
Di sisi lain, aku menyadari betapa lemahnya diri ini, betapa jahatnya hati ini.
Perfeksionisme itu membunuhku.
Ketika aku sendiri gagal memenuhi standar yang kutentukan sendiri, target yang kubuat sendiri, bagian lain dalam diri seolah memberi penghukuman dengan segunung rasa bersalah yang mematikan. Yang kemudian berubah jadi rasa takut yang melumpuhkan, membuatku ragu untuk melangkah dan menetapkan tujuan lagi.
Bersyukur sekali, Tuhan yang menciptakan, yang memberi peraturan kekal, mau mengampuniku yang sudah gagal total memenuhi peraturanNya, agal total menuruti kehendak Nya.
How amazing is His grace.
Dan aku bersyukur ada di momen ini, diingatkan, dikuatkan, dilayakkan.
Makasih Bapa.
Komentar
Posting Komentar